Toko kecil-kecilan

Tampilkan postingan dengan label K3. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label K3. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Oktober 2013

Mengapa Aki Meledak?

Aki Meledak terjadi ketika dinding yang mengisolasi suatu material didalamnya tidak mampu menahan tekanan yang berasal dari pemuaian material didalamnya. Kejadian ledakan pada sebuah aki adalah sebuah fenomena yang dapat di jelaskan secara teknis. sesuatu hal yang menyebabkan air accu terisolasi di dalam ruang. Ledakan aki terjadi pada beberapa kondisi, pada kondisi awal start atau pada kondisi aki digunakan beroperasi normal. Misal pada saat mobil atau engine berjalan normal. Pernahkah anda mengalami aki anda meledak, meletus atau sejenisnya? Mungkin jawabannya akan beragam, tergantung kepada kejadian yang pernah dialami. Kalau anda seorang teknisi mungkin akan menjawab, ‘pernah’ atau ‘tidak pernah’ bahkan ada yang bilang ‘ idih amit-amit deh’. Kalau anda teknisi mungkin akan juga mengatakan bahwa ini adalah hal yang biasa terjadi alias kejadian umum dan bukan merupakan hal yang istimewa. Namun jika anda seorang praktisi Safety/K3 maka akan dilihat ini adalah hal luar biasa dan menjadi sebuah temuan audit dan merupakan dalam klasifikasi Major karena dapat menyebabkan Loss Time Injury (LTI) atau Medical Treatment Injury (MTI), bahkan bisa menjadi Fatality. Semua kondisi tersebut adalah sebuah kejadian yang sangat di ‘haramkan’ oleh praktisi Safety. Sebisa mungkin kejadian ini di eliminasi kalau perlu di hapus dari catatan. Tetapi bagaimanapun ledakan pada accu sangat berbahaya, karena acid atau accu-zuur didalam bisa muncrat berserakan mengenai orang didekatnya dan membuat melepuh pada kulit, kebutaan pada mata. Mungkin juga menimbulkan trauma pada telinga karena suara lekadakan yang sangat keras. Maka berhati-hatilah dengan penggunaan dan pengoperasian accu. Sebuah kejadian kecelakan merupakan hal yang tidak kita harapkan. Namun dalam setiap musibah selalu ada sebuah hikmah yang dapat kita ambil. Kejadian ini adalah sebuah accident yang menimpa salah satu gedung yang saya tangani. Teknisi kami tidak mengalami masalah apapun ketika sebuah aki yang sedang di periksa tiba-tiba meledak. Kejadiannya adalah, teknisi melakukan weekly checklist, salah satunya adalah menyalakan genset secara manual. Sebelum melakukan teknisi melakukan prosedur standar untuk menyalakan genset, mulai dari melihat level oli, tegangan aki, level air aki dan melihat kemungkinan kendor conector, berkaratnya pole dari aki serta melembungnya bodi aki. Setelah semua dilihat aman dan di yakinkan dalam kondisi wajar, maka teknisi bersiap untuk menyalakan mesin seperti biasa. Saat tombol start di pencet, blarrrrrr… meletus lah aki dan mengakibatkan percikan pecahan tutup atas yang membahayakan. Kecelakaan tetaplah kecelakaan yang tetap harus di usut asal muasal, efek, dampak dan seberapa besar andil tipa orang yang terlibat. Tentunya ini adalah pertanggungjawaban yang harus di ambil oleh semua kalangan. Selagi proses investigasi berjalan, mari kita coba analisa secara teknis kenapa hal ini bisa terjadi. Berikut beberapa penyebab kenapa accu atau aki pada genset bisa sampai meledak: 1. Kabel konektor pada pada accu genset longgar jadi pada saat start dinyalakan, dynamo starter menarik arus yang besar dan karena kabelnya longgar dan arus yang kelewat besar sehingga bisa terjadi ledakan. Tindakan pencegahannya adalah selalu menyalakan genset selalu cek kekencangan kabel konektornya dan selalu kencangkan baut-baut sudah mengendor. 2. Jika dynamo starter sudah mengeluarkan suara yang tidak normal atau sudah susah dinyalakan berhati hatilah itu berarti dynamo anda bermasalah. Jika dipaksakan bisa mengakibatkan short sikuit, atau rotor yang sangat berat berputar yang mengakibatkan menarik arus yang sangat besar dan dapat berefek ke accu sampai meledak. 3. Komponen accu tidak dirawat secara rutin, seperti airnya kurang atau bak airnya accunya membengkak karena tidak dikontrol airnya. Maka selalu lakukan control terhadap permukaan air accunya. 4. Accu yang sudah lama dapat menyebabkan kualitas sel sel accu menjadi jelek, dapat menyebabkan ledakan pada saat genset di start. Maka jika umur accu sudah mencapai 2 tahun disarankan diganti.Dari beberapa referensi usia normal dari aki adalah 1,5 – 2,5 tahun tergantung dari kondisi pemakaian. Semakin sering aki digunakan (charge and re-charge) maka aki justru akan lebih panjang usianya dari pada aki yang jarang di gunakan. 5. Overheating karena charger yang bermasalah pada sel sel accu juga bisa menjadi penyebab terjadinya ledakan. Maka dari itu jika sudah tidak dipakai matikan chargernya nyalakan kembali pada saat dibutuhkan, kecuali jika genset memang dinyalakan selama 24 jam maka perlu diberikan pengawasan khusus. 6. Overcharge yaitu sebuah kondisi dimana aki terus menerus di charge yang panasan dan melendung (covernya kemudian meledak). Pada batere kering, gas hidrogen dan oksigen tidak mudah keluar, dan terkumpul di dalam aki. Jika pengisian aki terlalu tinggi hingga melampaui batas normal (overcharge), maka produksi hidrogen dan oksigen meningkat. Sehingga pada suatu saat akan melampaui kemampuan wadah aki dan akhirnya wadah pecah alias aki meledak. Batere yang tertutup rapat (sealed battery) seperti aki kering (gel cell, Adsorbed Glass Mat, dll) memang lebih tinggi resiko meledaknya dari pada aki basah. 7. Selama aki diisi-ulang / dicas (recharge), aki akan mengeluarkan gas hidrogen dan oksigen. Sebagaimana diketahui hidrogen adalah gas yang mudah terbakar, sedangkan oksigen adalah zat yang membantu proses pembakaran. Sehingga kombinasi kedua gas tersebut akan mudah terbakar. Campuran hidrogen dan oksigen dalam konsentrasi tertentu jika bertemu dengan percikan api atau panas yang tinggi walau cuma di satu titik kecil, maka akan mudah meledak. Bagaimana cara menghidari ledakan tersebut? Berikut yang seharusnya dilakukan: 1. Selalu melakukan pemeriksaan awal sebelum mengoperasikan / menyalakan engine. Seperti lihat level air, lihat kekecangan konektor terhadap pole. 2. Waspada terhadap perubahan bentuk dari accu itu sendiri, apakah accu sudah melembung (hamil) atau yang lain 3. Untuk Accu dengan kapasitas besar, dalam penempatanya harus diberi jalan udara (artinya tidak tertutup rapat) gunanya agar gas hidrogen tidak terperangkap dan terkumpul pada ruang tertutup sehingga kekuatan melemah. 4. Saat membuka kabel accu mulailah dengan membuka dari pole negative(-) bukan yang positif (+) sehingga tidak menimbulkan percikan (terutama accu berkapasitas besar seperti accu forklift dan alat berat lainnya). 5. Pada saat memasang accu dilakukan sebaliknya pasang yang positif (+) dulu kemudian yang negatif (-) ini pun utk menghindari percikan. 6. Tidak menambahkan beban pada aki yang melebihi dari design pabrik, yang menimbulkan arus yang terlalu 7. Operator dilarang merokok saat menyalakan / mengoperasikan engine. Semoga bermanfaat.

Senin, 25 Juli 2011

Peraturan Keselamatan Kerja Untuk Supplier

Peraturan Keselamatan Kerja
Untuk Kontraktor /SubKontraktor
Yang melaksanakan pekerjaan di Lingkup Owner

Setiap Personel Kontraktor yang melakukan pekerjaan di Area Kerja OWNER, wajib mentaati peraturan berikut ini :
1. Berfikirlah keselamatan diri anda dan orang lain sebelum bekerja
2. Personel Kontraktor wajib menggunakan pakaian yang rapi dan sopan, ,
3. Area Pabrik adalah area bebas asap rokok, di larang merokok disembarang tempat.
4. Sub-kontraktor wajib memakai Alat Pelindung Diri (APD) seperti sepatu safety, Helm, Masker dan Earplug.
5. Wajib memakai APD secara benar. Misal menggunakan helm dengan benar dan menggunakan peralatan APD sesuai peruntukan
6. Wajib menggunakan peralatan kerja yang aman.dan layak baik terhadap manusia, mesin serta peralatan itu sendiri.
7. Jangan menggunakan peralatan listrik yang rusak.
8. Jangan menyalahgunakan peralatan listrik.
9. Untuk gerinda di larang dibuka pelindung disc-nya.
10. Dilarang membuka penutup keselamatan pada peralatan.
11. Wajib menggunakan topeng las (welding mask) yang layak dan secara jika melakukan pekerjaan las.
12. Wajib menggunakan kacamata jika menggerinda.
13. Perhatikan orang disekitar jika membuang / menjatuhkan barang dari atas. Pastikan tidak mengenai orang.
14. Ingatkan orang lain jika lalai akan keselamatan kerja.
15. Pastikan peralatan kerja dalam keadaan aman untuk peralatan dan manusia.
16. Penggunaan kacamata untuk operator gerinda adalah wajib.
17. Hati-hati menaruh benda di ketinggian
18. Hati hati melempar / membuang benda dari atas.
19. Hati-hati dengan pipa bertekanan, tanyakan ke supervisor jika terjadi keraguan.
20. Hati-hati dengan langkah anda., perhatikan juga sekitar anda (terutama bagian bawah).
21. Patikan bekerja pada kaki/kaki atau tempat kerja yang stabil.
22. Jika harus ada benda yang diangkat oleh manusia maka pastikan bahwa beban yan diangkat tidak melebihi kapasitas manusia, jaga bagian belakang (tulang belakang).
23. Hati-hati terhadap lalu lintas kendaraan (forklift/ laoder)
24. Pastikan tidak ada bagian berbahaya/ mudah terbakar dari percikan las di tempat pengelasan.
25. Sediakan APAR di lokasi dekat pengelasan.
26. Pastikan melindungi kabel dari percikan las.
27. Jangan menggunakan alat lebih dari kapasitasnya.
28. Jangan sembarangan membuang bahan2 berbahaya seperti glasswool atau rockwoll, karena mengandung bahan asbestos yang berbahaya. Koordinasikan dengan yang berwenang dalam hal ini
29. Jika terjadi penambahan personnel, maka personel tambahan juga wajib mendapatkan safety induction.
30. Pastikan meninggalkan area kerja bebas dari sisa-sisa pekerjaan, baik alat kerja maupun sampah
31. Awali bekerja dengan semangat, akhiri bekerja dengan selamat.

-------------------------------------

Kamis, 21 Juli 2011

PEKERJAAN PANAS (HOTWORK)

Pengertian HOTWORK adalah pekerjaan di area panas, maksudnya adalah pekerjaan yang dapat menimbulkan percikan api, kebakaran, bahkan ledakan, di area kita yang termasuk hot work adalah pekerjaan pengelasan, penggerindaan, pemotongan dengan menggunakan gas elpiji+oksigen.
Tujuan dari penyampaian materi ini adalah untuk meningkatkan kesadaran bagi setiap individu akan pentingnya kesehatan dan keselamatan kerja khususnya karyawan yang bersangkutan.

1. Pekerjaan pengelasan.
Penngelasan dengan menggunakan las listrik ada beberapa hal yang perlu diperhatikan didalam pengaplikasian K3 diantaranya adalah:
Periksa dan pastikan bahwa kondisi trafo las dalam keadaan baik dan siap digunakan, misalnya : kabel las tidak terkelupas, tidak terpotong, serta tertutup isolasi dan tidak diperkenankan disambung mengingat ampere yang digunakan cukup besar sehingga bisa menimbulkan panas yang berlebih dan kinerja trafo tidak maksimal.
Bagi tukang las diharuskan menggunakan perlengkapan mengelas seperti : safety shoes, apron/ pakaian pelindung, sarung tangan las, masker, kacamata las/ topeng las, serta ada beberapa hal dalam pengelasan usahakan untuk tidak melawan arah angin untuk menghindari terhirupnya asap las secara langsung, dan untuk mencegah paparan sinar las yang terjadi perlu dipasang tabir las disekitar area pengelasan.

2. Pekerjaan penggerindaan.
Beberapa hal yang perlu diperhatukan dalam penggerindaan adalah pastikan bahwa kondisi mesin dalam keadaan baik dan selalu gunakan APD diantaranya adalah helm, safety shoes, kacamata pelindung, masker, sarung tangan. Dalam pelaksanaannya safety guard pada mesin harus selalu terpasang dan ukuran gerinda harus sesuai dengan spesifikasi mesin tersebut misalnya mesin gerinda dengan spek 6 inch digunakan mata gerinda 6 inch.

3. Pekerjaan pemotongan besi menggunakan oksigen+LPG.
Dalam pekerjaan pemotongan ada standar yang harus dilaksanakan antara lain:
Regulator yang digunakan harus sesuai dengan kebutuhan misalnya regulator untuk LPG berbeda dengan regulator untuk oksigen . Begitu pula untuk Nozzle dan cutting attachment harus sesuai dengan kebutuhan tidak diperkenankan untuk dimodifikasi atau diubah ubah.
Terpasang flash back arrestor min 1 pcs bias juga 2 pcs pada slang yang terletak diantara regulator tabung dan nozzle, flash back arrestor adalah alat yang berfungsi untuk mencegah terjadinya arus balik gas kedalam tabung yang dapat menimbulkan ledakan/kebakaran.
Didalam pelaksanaan pekerjaan pemotongan harus ada jarak horizontal minimal 5m antara tabung dengan material yang dikerjakan, untuk jarak pada area penyimpanan minimal 15m, apabila akan memindahkan tabung harus dalam posisi berdiri tidak boleh tertidur dan katup gas tidak boleh tersentak/ terpukul oleh benda keras yang bisa menimbulkan kebocoran.
Bagi pekerja harus menggunakan APD yang diperlukan.

Job Safety Analisis

Salah satu cara untuk mencegah kecelakaan di tempat kerja adalah dengan menetapkan dan menyusun prosedur pekerjaan dan melatih semua pekerja untuk menerapkan metode kerja yang efisien dan aman. Menyusun prosedur kerja yang benar merupakan salah satu keuntungan dari menerapkan Job Safety Analysis (JSA) – yang meliputi mempelajari dan membuat laporan setiap langkah pekerjaan, identifikasi bahaya pekerjaan yang sudah ada atau potensi (baik kesehatan maupun keselamatan), dan menentukan jalan terbaik untuk mengurangi dan mengeliminasi bahaya ini.
JSA digunakan untuk meninjau metode kerja dan menemukan bahaya yang :
• Mungkin diabaikan dalam layout pabrik atau bangunan dan dalam desain permesinan, peralatan, perkakas, stasiun kerja dan proses.
• Memberikan perubahan dalam prosedur kerja atau personel.
• Mungkin dikembangkan setelah produksi dimulai.

Pengertian Job Safety Analysis
JSA merupakan identifikasi sistematik dari bahaya potensial di tempat kerja yang dapat diidentifikasi, dianalisa dan direkam. Hal-hal yang dilakukan dalam penerapan JSA :
• Identifikasi bahaya yang berhubungan dengan setiap langkah dari pekerjaan yang berpotensi untuk menyebabkan bahaya serius.
• Menentukan bagaimana untuk mengontrol bahaya.
• Membuat perkakas tertulis yang dapat digunakan untuk melatih staf lainnya.
• Bertemu dengan pelatih OSHA untuk mengembangkan prosedur dan aturan kerja yang spesifik untuk setiap pekerjaan.

Keuntungan dari melaksanakan JSA adalah :
• Memberikan pelatihan individu dalam hal keselamatan dan prosedur kerja efisien.
• Membuat kontak keselamatan pekerja.
• Mempersiapkan observasi keselamatan yang terencana.
• Mempercayakan pekerjaan ke pekerja baru.
• Memberikan instruksi pre-job untuk pekerjaan luar biasa.
• Meninjau prosedur kerja setelah kecelakaan terjadi.
• Mempelajari pekerjaan untuk peningkatan yang memungkinkan dalam metode kerja.
• Mengidentifikasi usaha perlindungan ynag dibutuhkan di tempat kerja.
• Supervisor dapat belajar mengenai pekerjaan yang mereka pimpin.
• Partisipasi pekerja dalam hal keselamatan di tempat kerja.
• Mengurangi absent.
• Biaya kompensasi pekerja menjadi lebih rendah.
• Meningkatkan produktivitas.
• Adanya sikap positif terhadap keselamatan.


Mengembangkan Sebuah JSA
A. Memilih Pekerjaan
Pekerjaan dengan sejarah kecelakaan yang buruk mempunyai prioritas dan harus dianalisa terlebih dulu. Dalam memilih pekerjaan yang akan dianalisa, supervisor sebuah departemen harus memenuhi faktor berikut ini :

1. frekuensi kecelakaan.
Sebuah pekerjaan yang sering kali terulang kecelakaan merupakan prioritas utama dalam JSA.
2. tingkat cedera yang menyebabkan cacat.
Setiap pekerjaan yang menyebabkan cacat harus dimasukan ke dalam JSA.
3. kekerasan potensi
Beberapa pekerjaan mungkin tidak mempunyai sejarah kecelakaan namun mungkin berpotensi untuk menimbulkan bahaya.
4. pekerjaan baru
JSA untuk setiap pekerjaan baru harus dibuat sebisa mungkin. Analisa tidak boleh ditunda hingga kecelakaan atau hamper terjadi kecelakaan.
5. mendekati bahaya
Pekerjaan yang sering hampir terjadi bahaya harus menjadi prioritas JSA.

B. Membagi Pekerjaan
Untuk membagi pekerjaan, pilihlah pekerja yang benar untuk melakukan observasi. Pilihlah pekerja yang berpengalaman, mampu dan kooperatif sehingga mampu berbagi ide. Jelaskan tujuan dan keuntungan dari JSA kepada pekerja.
Observasi performa pekerja terhadap pekerjaan dan tulis langkah dasar JSA. Rekaman video pekerjaan dapat digunakan untuk peninjauan di masa mendatang. Pertanyakan langkah awal pekerjaan dilanjutkan langkah selanjutnya dan seterusnya.

C. Identifikasi Bahaya dan Potensi Kecelakaan Kerja
Tahap berikutnya untuk mengembangkan JSA adalah identifikasi semua bahaya termasuk dalam setiap langkah. Identifikasi semua bahaya baik yang diproduksi oleh lingkungan dan yang berhubungan dngan prosedur kerja.
Tanyakan pada diri masing-masing pertanyaan berikut untuk setiap tahap:
- adakah bahaya mogok, akan mogok atau kontak yang berbahaya dengan objek pekerjaan?
- Dapatkah pekerja memegang objek dengan aman?
- Dapatkah gerakan mendorong, menarik, mengangkat, menekuk atau memutar yang dilakukan menyebabkan ketegangan?
- Adakah potensi tergelincir atau tersandung?
- Adakah bahaya jatuh ketika pekerja berada di tempat tinggi?
- Dapatkah pekerja mencegah bahaya saar kontak dengan sumber listrik dan kontak putus?
- Apakah lingkungan berbahaya bagi keselamatan dan kesehatan? Adakah konsentrasi gas beracun, asap, kabut, uap, debu, panas atau radiasi?
- Adakah bahaya ledakan?


D. Mengembangkan Solusi
Langkah terakhir dalam JSA adalah mengembangkan prosedur kerja yang aman untuk mencegah kejadian atau potensi kecelakaan. Beberapa solusi yang mungkin dapat diterapkan:
- Menemukan cara baru untuk suatu pekerjaan
- Mengubah kondisi fisik yang menimbulkan bahaya.
- Mengubah prosedur kerja,
- Mengurangi frekuensi pekerjaan.

Poin utama dari job safety analysis adalah : mencegah kecelakaan dengan antisipasi dan eliminasi serta mengontrol bahaya yang ada.